 |
Akibat Ilegal Fishing |
Para pembaca setia blog ini tentu setuju dengan judul diatas. Kami akan ulas sedikit mengenai mengapa
Mancing Mengajari Kita Dekat Dengan Alam dalam tulisan berikut ini. Salah satu persoalan yang kini hampir melanda seluruh wilayah perairan
Indonesia baik air laut maupun air tawar adalah
masalah soal sampah.
Lebih parahnya lagi adanya
sampah sampah berbahan dasar plastik yang
akan sangat susah sekali untuk teruraikan oleh proses alam. Mulai dari
kantong plastik, bekas botol mineral dan sampah plastik bekas kemasan
makanan serta diperparah dengan bekas popok bayi sekali pakai. Setiap
kali saya turun spot baik itu ke Waduk, Sungai atau rawa pasti berjumpa
dengan sampah-sampah tersebut. hal inipun semakin diperparah oleh kita
para pemancing yang tanpa kita sadari sering kali meninggalkan barang
bekas terlebih plastik bekas makanan bekal ataupun botol minuman.
Banyak sekali video yang menunjukkan betapa buruknya perilaku
masyarakat Indonesia yang memang belum banyak yang menyadari akan
bencana yang ditimbulkan oleh masalah sampah ini. Salah satu efek yang
sekarang ini sering muncul di televisi adalah masalah banjir yang
kadangkala disebabkan oleh permasalahan sampah yang menyumbat saluran
air. Memang sebagai seorang pemancing apalagi jika anda sekalian
berfikiran maju tentu masalah sampah ini harus kita hindari dimulai dari
diri kita sendiri dengan tidak membuang sampah plastik secara
sembarangan. Buanglah pada tempat sampah dimana nantinya akan dibuang ke
tempat yang semestinya untuk dimusnahkan.
Tanpa kita sadari
dengan (maaf) umpan tiruan yang berbahan plastik yang tertinggal di
lokasi karena nyajen atau hilang secara tidak langsung kitapun turut
andil dalam menambah jumlah sampah plastik di spot mancing.
Sebagai contoh nyata soal sampah adalah Waduk Mulur di Sukoharjo
dimana setiap hari lebih dari 100 pemancing datang di lokasi ini.
Silahkan check tanggul Waduk Mulur dimana banyak sekali sampah plastik
yang ditinggalkan oleh para pengunjung khususnya para pemancing. Sadar
atau tidak hal ini selain menimbulkan polusi air juga menambah kesan
buruk di lokasi Waduk Mulur. Beberapa waktu yang lalu kami dari IMCS
dibantu beberapa kawan pemancing yang peduli mengadakan acara
pembersihan sampah di sepanjang tanggul Waduk Mulur namun kini sudah
mulai merebak lagi soal sampah plastik ini.
Ya memang kesadaran
pribadi sangat dibutuhkan untuk persoalan sampah ini. Saya yakin jika
para pembaca di blog saya ini termasuk orang-orang cerdas yang
berfikiran maju sehingga saya berharap para pembaca disinipun ikut
mengkampanyekan gerakan anti sampah baik untuk pribadi ataupun sekedar
mengingatkan kawan lain yang masih suka membuang sampah secara
sembarangan terutama di lokasi memancing para pembaca sekalian. Jangan
sampai kita jadi ilang filling ketika mau memancing hanya karena melihat
tumpukkan sampah disekitar lokasi memancing kita. Semoga tulisan kecil
ini bisa ikut menggugah hati kecil para pembaca sekalian agar ke depan
kita semakin lebih peduli kepada alam sekitar khususnya perairan
Indonesia tercinta ini, karena alam bukanlah warisan nenek moyang namun
alam adalah titipan untuk anak cucu kita nanti di masa yang akan datang.
Salah satu jenis tanaman air yang bagi sebagian pemancing pasti
mengenalnya adalah tanaman enceng gondok. Tanaman ini dulunya dibawa
masuk ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda namun pada akhirnya
menimbulkan dampak yang hingga hari ini belum ada solusi tepat dalam
mengatasi pertumbuhan tanaman air yang bersifat invasif dan destruktif
ini. Sebagai contoh adalah Rawa Pening di Salatiga yang mengalami banyak
problema dengan adanya tanaman enceng gondok yang merata hampir di
seluruh wilayah Rawa Pening. Di tempat lainpun juga menimbulkan masalah
tersendiri seperti di bekas aliran Bengawan Solo tepatnya sepanjang
kalimati mulai dari tangkisan Tawangsari hingga Telukan Grogol
Sukoharjo. Selain itu juga menjadi masalah di Rowo Jangglengan Nguter
yang beberapa waktu lalu akhirnya disingkirkan dengan swadaya masyarakat
setempat.
Tanaman enceng gondok dapat berkembang biak secara cepat dalam hitungan
minggu. Saya sendiri mengamati bahwa hanya dalam hitungan minggu saja 1
lokasi bisa penuh dengan tanaman ini jika memang dibiarkan. Tanaman ini
juga sedikit sekali manfaatnya dan lebih banyak dampak negatifnya antara
lain mengurangi kandungan oksigen pada air dan menutupi permukaan air
sehingga akan menggangu ekosistem air serta menyebabkan pendangkalan
pada wilayah tersebut. Bahkan karena banyaknya tanaman ini pula bisa
menyebabkan berkembangnya nyamuk demam berdarah karena jentik nyamuk
akan cepat sekali berkembang biak diantara sela-sela tanaman air enceng
gondok ini.
Nah sebelum terlanjur sebaiknya jika anda menemui tanaman ini pada
lokasi memancing segeralah diangkat dan dimusnahkan sebelum semuanya
terlambat karena berdasarkan pengalaman dari tempat-tempat mancing yang
sudah mangkrak disebabkan tanaman enceng gondok ini akan berakibat fatal
bagi kita semua terutama warga sekitar yang akan terkena dampak secara
langsung antara lain kesehatan, sedangkan bagi kita para pemancing tentu
kita pasti akan menjadi kehilangan tempat memancing karena seluruh area
akan dipenuhi tanaman ini. Saya berharap kita lebih baik mencegah
sebelum terlambat karena biaya untuk pemusnahan tanaman enceng gondok
akan sangat mahal serta membutuhkan tenaga dan pikiran. Seperti yang
terjadi di Rawa Pening dimana pemerintahpun akhirnya harus turun tangan
dengan alokasi dana yang boleh dikatakan tidak sedikit. Nah kita sebagai
penghobi mancingpun setidaknya harus sedikit peduli jika memang kita
ingin hobi kita ini akan terus berlangsung dan turun kepada anak-cucu
kita nantinya.
Perairan di Indonesia sangat kaya akan keragaman jenis ikan serta
biota di dalamnya, baik di perairan air tawar maupun perairan lautnya.
Namun seiring perkembangan dan kebutuhan masyarakat akan gizi dari
kandungan protein ikan maka terjadi pula cara-cara perburuan ikan dan
biota lainnya dengan cara yang kurang sesuai dengan peraturan
Pemerintah, antara lain penggunaan Bom Ikan, Setrum, jaring Pukat dan
racun. hal ini tentunya akan sangat berdampak bagi keseimbangan
ekosistem dan rantai makanan yang terkandung di dalamnya. Berikut ini
penjabaran bahaya yang ditimbulkan oleh aksi ilegal fishing.
- Jaring Pukat, secara langsung akan berdampak berkurangnya ikan
secara massal karena jaring dengan ukuran kecil akan menggangu sistem
rantai makanan bagi ikan-ikan besar lainnya serta mengurangi jumlah ikan
secara berlebihan dan tidak terkendali. Termasuk disini adalah
penggunaan Spring Bomb Net atau Jaring Tegeg yang berukuran kecil
dibawah 2,5 Inchi karena menurut aturan yang diperbolehkan adalah diatas
2,5 Inchi bagi jaring di wilayah Indonesia.
- Setrum, micro organisme sebagai dasar rantai makanan akan musnah
sehingga ikan kecil tidak akan dapat berkembang secara sempurna dan pada
akhirnya akan memutus rantai makanan diatasnya, selain itu dampak nyata
adalah berkurangnya kesuburan tanah dilokasi yang sering dijadikan
lahan penyetruman karena bakteri pengurai akan musnah oleh aliran
listrik yang dihasilkan oleh alat ini. Jika belut dan ikan gabus diambil
secara massal dengan alat ini tentu tikuspun akan kembali merebak
dikarenakan predator dari cindil sudah tidak ada lagi. Selain itu
beberapa kasus setrum pun dapat berdampak kematian bagi pengguna alat
itu sendiri.
- Racun, micro organisme dan ikan-ikan kecil akan musnah secara massal
dan tentu makanan ikan besar akan hilang sehingga berdampak kelanjutan
bagi ikan-ikan pemburu diatas rantai makanan selain itu ikan yang
tertangkap juga akan mengandung racun dan pada akhirnya kan terkonsumsi
oleh manusia dan dalam jangka waktu panjang bisa menimbulkan kanker,
dampak lainnya pun menyebabkan kematian secara mendadak bagi orang yang
mengkonsumsi namun tidak mengolah secara benar ikan hasil racun
tersebut.
Bom ikan, akan merusak secara langsung habitat ikan sehingga rumah
bagi perkembangan ikan selanjutnya juga akan musnah. Bom ikan juga
menyebabkan wilayah perairan tandus karena racun yang ditimbulkan akan
lama hilang dari penggunaan bom ikan.Jika kita pemancing, tentu kita sangat akan berusaha untuk
mendapatkan hasil ikan yang berlimpah dalam setiap kegiatan memancing
kita, namun seiring perjalanan waktu saat ini untuk mendapatkan hasil
berlimpah lewat memancing tentulah hal yang sangat butuh banyak
kesabaran dan perjuangan. Hal ini sangat dipengaruhi banyak faktor baik
dari sisi pemancingnya itu sendiri maupun dari faktor luar.Dari
sisi pemancing sendiri, tidak semua pemancing sadar akan pentingnya
melestarikan habitat ikan, kurang bisa memilah dan memilih mana yang
layak dibawa pulang dan merilis kembali mana ikan yang belum layak
konsumsi. Faktor lain adalah ketika mendapatkan ikan indukan justru
malah diambil sehingga regenerasi ikan akan terganggu. Tidak perlu saya
sebutkan namun kenyataan itu ada di setiap kita memancing. Sebaiknya
memang ikan indukan tetap kita pertahankan agar dapat memijah dan
menurunkan kembali anakan ikan. Hal lainnya adalah ketika ikan-ikan
kecil anakanpun tak luput dari serangan membabi buta. Goreng garing
katanya gurih...hehehe....
Sedangkan faktor luar antara lain masih
adanya Setrum ikan, Obat kimia yang disalahgunakan serta jaring pukat
dan bomb ikan. Tentu ini sangat memprihatinkan bagi kita khususnya untuk
masa depan perairan Indonesia.
Maka dari itu saya mengajak para pembaca setia blog saya ini untuk
lebih bisa bersahabat dengan alam dan mengubah pola pikir kita, bahwa
memancing itu bukanlah untuk mencari ikan sebagai lauk pauk semata
tetapi kita ambil sisi lainnya yanitu sebagai sarana olahraga batin dan
fisik sebagai sarana hiburan semata. Jika pola pikir kita sudah berubah
tentang arti sebuah kegiatan memancing tentu kita akan lebih peduli
untuk ikut melestarikan alam khususnya untuk wilayah perairan Indonesia.
Salah
satu slogan yang saya ambil dari para petualang pecinta alam adalah
ketika kita berkunjung kesebuah tempat ada 3 pesan khusus yaitu Jangan
mengambil kecuali kenangan (lewat rekaman video atau photo), Jangan
meninggalkan sesuatu kecuali jejak (jangan nyampah), dan jangan membunuh
sesuatu kecuali waktu (inilah salah satu yang membuat saya mendukung
Catch And Release tentu dengan catatan catan tertentu juga).
Pilah dan Pilih
Pilah mana ikan yang masih kategori
anakan dan indukan. Pilih ikan dengan tingkat kelayakan konsumsi. Jangan
membawa pulang ikan yang terlalu kecil (anakan) atau bahkan terlalu
besar (Indukan) hal ini akan memberikan efek untuk kelangsungan
ekosistem berikutnya.
Jangan memancing ketika musim kawin ikan
Hal
ini bertujuan agar memberikan kesempatan ikan di alam liar untuk
berkembang dan memperbanyak jumlah sehingga nantinya kita juga akan
merasakan banyak jumlah tangkapan bukan sekedar mendapatkan hasil yang
sedikit jika memang kita berniat untuk mengembangkan ke arah pendapatan.
Lakukan tebar benih
Jika
kita ingin memanen tentu kita harus menanam. Untuk itu kita juga harus
ikut menebar benih agar kelak kita pun bisa memanennya. Bisa kita
bergabung pada komunitas mancing agar bisa bersama-sama dan tentu akan
lebih ringan pengeluaran kita untuk membeli bibit ikan.
Relokasi
Kita
lepaskan kembali ikan hasil tangkapan pada lokasi yang sudah tidak ada
ikan atau ikannya habis. Hal ini bisa kita ketahui dari survey ketika
kita memancing apakah hasilnya bagus atau tidak,jika tidak tentu kita
harus mulai peduli untuk relokasi ikan yang kita suka.
Kampanye anti ilegal fishing
Penyalahgunaan
obat kimia,setrum serta jaring pukat juga harus kita antisipasi dengan
memberikan pengertian kepada warga sekitar lokasi mancing agar secara
pelan-pelan menyadari bahaya dari penyalahgunaan tersebut terutama untuk
kelangsungan ekosistem dimasa datang.
Stop buang sampah sembarangan
Biasakanlah
membuang sampang pada tempatnya jangan membuang secara semabarangan
terutama di lokasi mancing karena akan mengotori dan mencemari air
sehingga merusak habitat ikan.
Nah semoga tulisan diatas tadi menjadikan
Mancing lebih Mengajari Kita agar Dekat Dengan Alam. Semoga.